Kamis, 12 Mei 2016

Rotan Indonesia: Potensi, Peluang dan Tantangan


Latar Belakang
Sejak dua dekade yang lalu, ada semacam peningkatan pengakuan terhadap nilai-nilai produk yang dihasilkan dari hutan (Hasil Hutan Non Kayu atau HHNK). Pemanfaatan HHNK diharapkan mampu berkontribusi dalam mengatasi persoalan yang timbul dari pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat dan isu konservasi. Menurut Belcher (2002), dalam kaitannya dengan hal di atas, ada tiga hal sentral yang menjadi alasan. Pertama, bila dibandingkan dengan kayu, HHNK lebih berkontribusi terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Kedua, secara ekologi, pemanenan HHNK lebih ramah bila dibandingkan dengan pemanenan kayu dan oleh karenanya memenuhi basis pengelolaan hutan lestari. Ketiga, pemanfaatan HHNK secara komersial mampu meningkatkan nilai hutan baik di level lokal maupun nasional. Salah satu hasil hutan non kayu yang bernilai cukup tinggi adalah rotan.
Seluruh jenis rotan yang tumbuh di permukaan bumi diperkirakan 850 jenis. Pusat pertumbuhan rotan paling banyak ditemui di Asia Selatan. Di wilayah ini terdapat sekitar 614 jenis rotan dan 312 jenis tumbuh di Indoneisa. Dari total 13 marga tumbuhan rotan di dunia, 8 marga diantaranya tumbuh di Indonesia (Rachman & Jasni,2008).
Indonesia sejak abad XVIII telah menjadi pelopor dalam penyedia produk rotan dunia. Dalam jajaran sektor HHNK, rotan menjadi primadona bagi pemasok devisa negara karena menduduki 80%-90% total nilai ekspor HHNK keseluruhan (Januminro,2000). Tahun 1996, sekitar 80% dari perdagangan rotan internasioanal berasal dari Indonesia. Lebih dari 90% produksinya dihasilkan dari hutan alam yang terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi (Silitonga,2002).
Saat ini ketersediaan rotan sangat banyak di hutan Indonesia terutama di wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Indonesia merupakan penghasil 85% rotan mentah dunia yaitu dengan nilai sekitar 699.000 ton/tahun. Akan tetapi sayangnya kondisi ini tidak serta merta menempatkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan internasional. Saat ini Indonesia menempati posisi ketiga (7,68%) dalam perdagangan rotan di pasar global setelah China (20,72%) dan Italia (17,71%) (Lumbantoruan,2013). Kondisi ini tentunya menjadi sebuah persoalan yang memerlukan pemecahan secara holistik serta kajian yang mendalam dengan melihat faktor-faktor penghambatnya guna menghantarkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan dunia.
Sebaran Alami Rotan di Indonesia
Penyebaran tumbuhan rotan mulai di kepulauan Fiji di Timur sampai ke Afrika tropis di bagian Barat dan mulai dari Autralia Utara sampai daerah Cina Selatan. Pusat pertumbuhan rotan paling banyak ditemui di Asia Selatan. Di indonesia penyebaran tumbuhan rotan terbanyak berada di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Irian Jaya.
Penyebaran dan potensi rotan di Indonesia hasil inventarisasi tahun 2006, tidak tersebar merata di seluruh nusantara. Penyebaran rotan di Indonesia meliputi 20 propinsi dengan total areal hutan yang ditumbuhi rotan seluas 9,9 juta hektar. Potensi produksi terbanyak terdapat di Sulawesi Tenggara 6,5 ton/ha, Kalimantan Barat 3,85 ton/ha, Sulawesi Selatan 1,95 ton/ha, Irian Jaya 1,8 ton/ha, dan Kalimantan Timur 1,21 ton/ha (Sanusi,2012).
Mogea (1990) dalam Rachman dan Jasni (2008), menyatakan bahwa di Asia Selatan terdapat sekitar 614 jenis rotan. Dari jumlah ini ternyata di Indonesia tumbuh sekitar 314 jenis yang berasal dari 8 genera dan satu genus diantaranya adalah endemik Indonesia, yaitu Cornera. Apabila dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, Indoenseia merupakan negara paling kaya akan sumberdaya rotan.
Dari 8 genera yang tumbuh di Indonesia diantaranya meliputi jenis: Calamus sebanyak 192 jenis, Ceratalobus 7 jenis , Cornera 1 jenis , Daemonorops 78 jenis, Kortehalsia 25 jenis, Myrialepsis 2 jenis, Plectocomia 5 jenis, dan Plectocomiopsis 2 jenis. Adapun penyebaran pertumbuhan jenis rotan di Indonesia dapat digambarkan melalui tabel berikut :


Sumber : Dransfield (1974) dan Sumarna (1986) dalam Rachman dan Jasni (2008)
Keterangan : ¹ Terdapat lebih dari satu species yang sama dalam wilayah yang berbeda; ² Jumlah species yang ada secara nasional; ³ Banyaknya species yang sama menyebar pada beberapa wilayah (jenis epidemik)

Seperti tampak pada tabel di atas, apabila species yang tumbuh pada masing-masing wilayah dijumlahkan diperoleh sebanyak 340 species (jumlah¹). Namun, jumlah spesies yang tercatat secara nasional adalah 312 spesies. Dengan demikian, terdapat selisih sebanyak 28 spesies, yaitu spesies-spesies yang tumbuh secara epidemik di beberapa wilayah.
Struktur dan Sifat Rotan
Secara anatomis, rotan memiliki unsur-unsur longitudinal (sel-sel yang arah panjangnya searah sumbu panjang batang), akan tetapi tidak memiliki unsur-unsur transversal seperti halnya unsur-unsur tranversal pada kayu (sel parenkim jari-jari dan sel epikel). Bila dibandingkan dengan struktur kayu daun lebar, struktur rotan lebih sederhana karena hanya memiliki beberapa macam sel dan susunan sel lebih seragam. Tidak adanya unsur-unsur tranversal pada batang rotan menjadikan rotan bersifat elastis dan mudah dibelah. Kedua sifat ini menguntungkan dalam pengolahan rotan menjadi berbagai macam komponen furniture (Sanusi,2012).
Terdapat dua bagian struktur yang berbeda walaupun batasnya tidak jelas pada penampang lintang batang, yaitu lapisan luar (jaringan perifer atau korteks) dan bagian dalam (jaringan sentral). Bintik-bintik yang nampak tersebar berwarna lebih gelao diantara jaringan yang berwarna pucat adalah berkas pembuluh, sedangkan jaringan lunak yang berwarna pucat adalah berkas pembuluh (Sanusi,2012). Menurut Tomlison (1961) dalam Rachman dan Jasni (2013), komponen mikroskopis penyusun batang rotan dapat dikelompokan menjadi tiga bagian utama, yaitu: kulit, parenkim dasar, dan ikatan pembuluh.
Jaringan kulit rotan terdiri dari dua lapisan sel, yaitu epidermis dan endodermis. Menurut Sanusi (2012), sel epidermis memiliki sifat yang sangat keras karena adanya endapan silika. Kekerasan dari epidermis tidak dipengaruhi oleh umur. Sedangkan endodermis memiliki sifat yang lebih lunak. Sel-sel yang menusun endodermis ini diduga merupakan tempat persenyawaan silika paling banyak dibentuk untuk kemudian diendapkan pada lapisan epidermis. Pada penampang melintang batang rotan, sel-sel epidermis tersusun tegak sedangkan sel-sel endodermis tersusun berbaring.
Di bawah endodermis terdapat korteks yang terdiri dari sel-sel parenkim, berkas serat dan ikatan pembuluh. Menurut Siripatanadilok (1974) dalam Rachman dan Jasni (2013), suatu hal yang perlu diperhatikan ialah adanya seludang serat (fibre sheat) yang disebut sebagai yellow caps, yaitu serat schelerenchyim yang terdapat di sekitar pembuluh pertama di bawah korteks. Yellow caps hanya ditemukan pada genera Korthalsia, Myrialepsis, Plectocomia dan Plectocomiopsis.
Jaringan parenkim dasar bagaikan pengisi batang dimana ikatan-ikatan pembuluh tertanam menyebar di dalamnya. Jaringan ini berbeda dengan parenkim aksial yang terdapat di dalam ikatan pembuluh. Parenkim dasar terdiri dari sel-sel parenkim isodiometrik pendiding tipis dengan noktah sederhana (Rachman dan Jasni,2013; Sanusi,2012).
Jaringan ikat pembuluh terletak menyebar diantara jaringan parenkim dasar. Sanusi (2012) mengatakan, tiap berkas pembuluh tersusun atas dua jaringan utama, yaitu jaringan pelaksana dan jaringan penyangga. Jaringan pelaksana terdiri atas satu atau dua untaian phloem, satu atau dua metaxylem, beberapa protoxylem dan jaringan parenkim aksial. Adapun jaringan penyangga adalah satu berkas serat. Rachman dan Jasni (2013) lebih lanjut mengatakan, fungsi jaringan pelaksana adalah mengatur kegiatan fisologis tanaman dalam pertumbuhannya. Sedangkan jaringan penyangga berfungsi dominan memberi kekuatan mekanik pada rotan.
Komposisi kimia pada rotan secara garis besar dapat dikelompokan menjadi tiga komponen pokok, yaitu: selulosa, lignin dan zat ekstraktif (Rachman dan Jasni,2013). Selusola berasal dari fotosintesis, berbentuk rantai panjang. Jumlah selulosa dalam rotan kurang lebih 38-60%. Lignin merupakan bagian terbesar kedua setelah selulosa. Jumlahnya berkisar 18-35%. Lignin berfungsi sebagai bahan pengikat antara satu dan lain sel dalam rotan. Oleh karena itu, lignin memberikan  kekuatan pada rota. Adapun untuk zat ekstraktif merupakan bahan organik dan anorganik dengan berat molekul rendah. Zat ekstraktif ini pada mulanya merupakan cairan yang terdapat dalam rongga sel pada waktu sel-sel masih hidup, setelah sel-sel tua dan mati cairan tadi menempel pada dinding sel berupa getah, lilin, zat warna, gelatin, gula-gula, mineral dan silika. Jumlah zat ekstraktif pada rotan kurang lebih 13%.
Rachman dan Jasni (2013) lebih lanjut mengatakan, secara mendasar nilai sifat fisis mekanis rotan ditentukan oleh susunan dan orientasi sel penyusun serta komposisi kimia rotan. Adapun sifat mekanis rotan meliputi: kadar air,  berat jenis dan kekuatan lentur statik. Untuk rotan kebanyakan yang dijumpai di Indonesia, kadar airnya berkisar 14-20% dari berat rotan kering, tergantung pada kondisi lingkungan di mana rotan tersebut berada. Untuk berat jenisnya berkisar 0,40-0,61, tergantung ikatan pembuluhnya (IKP). Semakin tinggi IKP, maka semakin tinggi pula berat jenisnya.
Genera Camalus merupakan jenis yang paling banyak tumbuh di Indonesia. Muniandy dkk (2012) lebih spesifik mengatakan komposisi kimia, fisika dan mekanik dari jenis Calamus melalui tabel beikut :
Sifat

Nilai Perkiraan
Sifat Fisika
Gaya Berat Khusus
0.55

Kepadataan
0.54 g/cm³
Sifat Mekanik
Daya Rentang
690 kg/cm²

Daya Lengkung
636 kg/cm²

Daya Tekan
216 kg/cm²

Modulus Elastis
31302 kg/cm²
Sifat Kimia
Holoselulosa
78.43%

lignin
21.97%

Abu
1.37%

Cairan Panas yang dapat larut
6.01%

Cairan Dingin yang dapat larut
3.63%

1% alkali
22.47%

Alkohol-Benzena
2.9%

Pemanfaatan dan Nilai Ekonomi
Masyarakat Indonesia sudah sejak lama mengenal dan menggunakan rotan dalam berbagai keperluan sehari-hari, bahkan di beberapa tempat rotan telah menjadi pendukung perkembangan budaya masyarakat setempat. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti kapan masyarakat Indonesia memanfaatkan rotan.
Ada banyak perbedaan dalam hal penggunaan rotan di masa lampau dan masa sekarang. Perbedaan penggunaan rotan tersebut yang jelas terletak pada manfaat dan peranan dalam mendukung kehidupan dan kesejahteraan manusia. Secara umum Januminro (2000) membagi manfaat rotan menjadi dua kelompok, yaitu manfaat rotan secara langsung dan manfaat rotan tidak langsung. Manfaat langsung, meliputi batang tua dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan dan perabot rumah tangga; batang muda dimanfaatkan untuk sayuran; buahnya dimanfaatkan untuk bibit tanaman, obat tradisonal, bahan pewarna, rujak dan sayur; akar dimanfaatkan untuk obat tradisional; dan daun dimanfaatkan untuk atap rumah.
Peran yang tidak langsung yang dapat diberikan dengan keberadaan tumbuhan rotan adalah dalam peranan dan kontribusinya meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, peranannya dalam membentuk budaya masyarakat, ekonomi dan sosial.
Manfaat rotan secara tidak langsung yang menyentuh kehidupan budaya masyarakat tercermin pada perkembangan daya kreasi dalam bentuk berbagai produk rotan. Misalnya kreasi dalam pembuatan tikar lampit, topi, tas, meja kursi, dan sebagainya. Selain itu, di masyarakat kita juga mengenal beberapa peribahasa yang menggunakan kata rotan. Hal tersebut menunjukan bahwa rotan begitu berarti. Dengan demikian, bagian rotan, ciri dan bentuk kenampakannya menjadi kiasan untuk menunjukkan kesamaannya dengan tata kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, peranannya sebagai sumber mata pencaharian masyarakat, penyerapan dan perluasan tenaga kerja merupakan manfaat rotan yang penting secara tidak langsung. Kontribusi yang diberikan oleh rotan memiliki mata rantai yang cukup panjang mulai dari kegiatan pemungutan sampai dengan menjadi barang jadi dan dipasarkan ke konsumen.
Kegiatan ekspor rotan merupakan salah satu sumber devisa bagi negara. Januminro (2000) memaparkan jumlah devisa dari produk ekspor rotan dan barang jadi rotan yang tercatat dari tahun 1993-1997 berkisar antara US$ 204,4 juta – US$ 374,5 juta setiap tahunnya. Total devisa yang disumbangkan dari ekspor rotan dan barang jadi rotan tersebut merupakan kontribusi sebesar antara 0.47%-1.27% dari total nilai ekspor nonmigas. Dalam hal peringkat sumbangan devisa nonmigas, produk rotan dan barang jadi rotan berada pada urutan 12 dari total 27 jenis komoditas utama nonmigas. Kontribusi dari rotan tersebut ternyata nilainya lebih besar dari pada devisa yang diterima dari ekspor produk kayu gergajian yang hanya menumbang antara 0.26%-0.55% setiap tahunnya.
Dalam perkembangannya, ekspor produk rotan dan barang jadi rotan mengalami penurunan.  Dimulai pada 2006, kinerja sektor ini mencapai US$ 344 juta, kemudian pada 2007 turun menjadi US$ 319 juta. Selanjutnya, pada 2008 turun lagi menjadi US$ 239 juta dan pada tahun 2009 serta 2010 masing-masing turun menjadi US$ 168 juta dan US$ 138 juta. Sementara itu, pada Juni 2011, ekspor turun menjaadi US$ 57 juta (Suprapto dan Sukirno,2011).
Budidaya, Pemanenan dan Pengolahan
Meluasnya pemanfaatan dan perdagangan rotan juga menimbulkan budaya untuk menghargai tanaman rotan itu sendiri. Penghargaan dan perhatian yang begitu besar terhadap rotan ditunjukan dengan dilakukannya pembudidayaan rotan oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia sejak abad XVIII (Januminro,2000).
Tidak semua jenis rotan disarankan untuk dibudidayakan. Kegiatan membudidayakan rotan harus mempertimbangkan faktor dalam pemilihan jenis-jenis rotan, antara lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta mengasilkan batang berkualitas tinggi. Menurut Yuniarti (2006), secara umum budidaya tanaman dapat dilakukan secara generatif (dengan biji) dan secara vegetatif (pucuk daun, akar, batang dengan stek, cangkok, okulasi dan kultur jaringan). Sampai saat ini, budidaya rotan yang telah dilakukan adalah dengan menggunanakan biji (teknik generatif).
Januminro (2000) lebih lanjut mengatakan, cara pembudiayaan dengan hasil yang baik dilakukan dengan cara membuat rintis (jalan di dalam hutan) dengan cara menebangi kayu-kayu kecil selebar 2 m dengan arah Timur-Barat. Rintis yang telah dibuat ditanami bibit rotan kecil yang tumbuh di sekitar pohon rotann induk. Bibit rotan yang tumbuh di sekitar pohon induk tersebut dicabut dan ditanam langsung di lokasi rintisan yang telah diberi lubang-lubang tanam. Jarak tanam antara 6-8 m. Selanjutnya, bibit rotan yang telah ditanami tersebut dipelihara secara rutin dan selama 6-12 bulan sekali dilakukan penyiangan terhadap tumbuhan pengganggu. Rotan yang dipelihara dengan baiklambat laun akan bertunas dan berumpun yang dapat mencapai 50-100 batang dan merambat hingga mencapai panjang 50cm bahkan lebih.
Dalam kegiatan pemanenan, waktu yang disarankan untuk memulai kegiatan pemanenan ketika: duri rotan sudah mulai menghitam, daun-daun sudah mulai jatuh, daun-daun pada akar rotan sudah kering dan berjatuhan, batang rotan sudah mulai berubah warna dari kuning terang-hijau gelap, rotan sudah berbunga dan berbuah, serta panjangnya lebih dari 5m (WWF,2011).
Rachaman dan Jasni (2013) mengatakan, pada dasarnya pemanenan rotan dilakukan semakin tua akan semakin baik. Namun, pemanenan sebaiknya dilakukan setelah rotan masak tebang. Panen pertama kali umumnya dilakukan pada umur 6-8 tahun untuk rotan berdiameter kecil, sedangkan untuk rotan berdiameter besar antara 12-15 tahun. Bagi rotan alam yang tidak diketahui umurnya, ciri-ciri masak tebangnya adalah apabila kelopak/daun/selundang pada batang bagian bawah sudah rontok, sebagian daunnya sudah mengering dan berwarna kekuning-kuningan.
Adapun proses pemanenan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut (Ngo-Samnick,2012): 1).menentukan terlebihdahulu spesies rotan yang akan dipanen (hal ini menghindari pemotongan yang sia-sia pada jenis yang tidak tepat/belum masak tebang), 2). Potong batang rotan 10cm di atas tanah, tarik dengan hati-hati untuk menghindari tunas muda, jangan sampai merusak pohon-pohon dan semak-semak disekelilingnya, 3). Lepaskan potongan batang dari ujung semak dengan menariknya ke bawah, sebaiknya dengan bantuan satu atau dua orang yang lain, dan jika perlu, memanjat ke pohon untuk melepaskan bagian-bagian batang yang terlingkupi ranting-ranting.  4). Setelah terlepas bagian utama dari batang, potong menjadi tongkat dengan berbagai panjang, tergantung pada spesies, ukuran rotan, atau menggunakan spesifikasi pembeli. Dalam kasus di mana seluruh panjang batang terlepas, potong tiga meter terakhir, karena bagian ini  tidak layak untuk pengolahan, tetapi mungkin berguna untuk mengikat bundel rotan. 5). Batang biasanya dipotong menjadi panjang 4 m untuk rotan diameter besar, dan 10 m untuk rotan diameter kecil. 6). Sortir tongkat untuk memisahkan tongkat yang kualitasnya di bawah standar. 7). Setelah panen, rotan harus diikat dalam bundel dan diangkut untuk penggunaan lokal atau ke pusat-pusat pengolahan lebih lanjut.
Secara garis besar, terdapat dua proses pengolahan bahan baku rotan asalan menjadi rotan setengah jadi, yakni pemasakan dengan minyak tanah untuk rotan berukuran sedang dan besar serta pengasapan dengan belerang untuk rotan yang berukuran kecil. Pemasakan dengan minyak biasanya dilakukan oleh pengepul besar dengan menggunakan tiga drum yang telah dibelah dua dan disambung menjadi satu. Selanjutnya, puluhan batang rotan dimasukkan ke dalam wajan drum itu yang sebelumnya telah diisi minyak tanah. Proses pemasakan cukup bervariasi tergantung besarnya api dan banyaknya rotan yang dimasak namun biasanya pemasakan diperkirakan akan memakan waktu sekitar 6-8 jam. Usai dimasak, rotan lalu dijemur untuk menghilangkan kandungan minyak tanah. Bila cuaca panas dan tidak hujan, penjemuran biasanya dilakukan sekitar tiga hari. Sedangkan bila cuaca lembab atau hujan, penjemuran bisa memakan waktu sekitar seminggu. Preses pengolahan dilanjutkan dengan proses menguliti dan membentuk rotan dalam beberapa ukuran. Selanjutnya, rotan setengah jadi siap dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri (anonim,2013).
Ngo-Samnick (2012) mengatakan lebih lanjut, bahwa secara umum pengolahan atau pemprosesan rotan dibedakan menjadi dua metode, yaitu metode tradisional dan metode modern. Metode tradisional lebih sedikit dalam hal biayanya. Sedangkan metode modern biayanya lebih mahal bila dibandingkan dengan metode tradisional, metode ini ditujukan untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang tinggi.
Kendala dalam Produksi dan Pemanfaatan Rotan
Rotan telah dipandang sebagai komoditi perdagangan hasil hutan non kayu yang cukup penting di Indonesia. Namun dalam pengolahan, ternyata masih belum memperlihatkan daya saing yang tinggi. Sanusi (2012) mengatakan, tenaga ahli dan terampil di bidang pengelolaan rotan masih sangat kurang, tidak memiliki desainer yang kreatif untuk menciptakan produk-produk yang sesuai dengan selera pasar internasional. Hal ini diduga karena pemerintah dan instansi lain terkait di daerah masih belum menunjukan perhatian yang serius sebagaimana perhatian yang selama ini telah diberikan kepada produk hasil hutan lainnya terutama kayu.
Kebijakan pengelolaan sumber daya hutan termasuk rotan sampai saat ini masih mengacu kepada ketentuan pengelolaan kehutaan yang tertuang dalam Undang-Undang Pokok Kehutanan 1967. Kebijakan pemanfaatan itu belum mengantarkan kepada perhatian yang khusus sebagaimana perhatian kepada kayu. Rotan masih ditempatkan sebagai produk hutan sampingan (Erwinsyah, 1999).
Menempatkan rotan yang masih menjadi produk hutan sampingan terlihat dari maraknya alih fungsi lahan hutan. Rotan yang pada dasarnya hasil hutan secara alami akan semakin terus berkurang dan tergerus seiring dengan pembukaan hutan melalui alih fungsi lahan. Habibat rotan yang terus tergerus pastinya akan mempengaruhi ketersediaan bahan baku rotan untuk industri rotan baik industri primer maupun skunder. Dengan demikian perlu digarisbawahi bahwa posisi rotan ternyata dianggap tidak cukup signifikan jika dibandingkan dengan komoditas lainnya.
Lumbantoruan (2013) mengatakan salah satu faktor penghambat dalam industri rotan adalah tidak adanya sinergitas antara industri hulu (industri bahan baku) dan hilir (industri barang jadi). Hal ini terutama diakibatkan kebijakan dan industri rotan selalu dipengaruhi oleh tarik menarik kepentingan antara pendukung kelompok industru hulu rotan dengan industri hilir rotan. Tarik menarik kepentingan ini membuat pemerintah mengalami dilema antara akan mempertahankan dan memperjuangkan industri hulu atau fokus pada pengembangan industri hilir. Dilema tarik menarik ini menyebabkan pemerintah hanya mengeluarkan kebijakan yang hanya sekedar membuka dan menutup keran ekspor rotan mentah.  Kepentingan yang selalu bersebrangan antara kelompok industri hulu dengan industri hilir rotan membuat setiap kebijakan yang diambil tidak pernah disepakati oleh kedua kelompok tersebut, sehingga pada akhirnya menyebabkan industri produk rotan Indonesia belum mampu meraih posisi yang signifikan di pasar global.
Saran dan Roadmap Pengembangan industri Rotan
Dari paparan kendala-kendala yang dihadapi dalam industri rotan di atas, hendaknya pemerintah lebih memberikan perhatian terhadap industri rotan. Perhatian tersebut dapat diarahkan kepada peningkatan kualitas kerja desiner, sehingga seorang desainer atau pengrajin rotan mampu memadukan kemampuan penalaran aspek rasional (pendekatan aspek ergonomi, aspek teknis, dan aspek ekonomi) dengan pendekatan emosional (aspek estetika).
Selain itu, peningkatan kualitas kerja pengrajin harus didukung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang menempatkan produk rotas bukan lagi sebagai komoditi sampinga. Hal ini dapat dilakukan dengan meminimalisir alih fungsi lahan hutan yang notabanenya habitat alami rotan. Di satu sisi, kegiatan pembudidayaan rotan juga harus ditingkatkan. Hal ini dalam upaya untuk menjadi alternatif ketikan rotan alam semakin berkurang jumlahnya, sehingga ketersediaan bahan baku akan tetap tercukupi.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah menciptakan kebijakan-kebijakan yang mampu mengintegrasikan antara industri hulu dengan industri hilir rotan. Sehingga mampu mengakomodir kepentingan antara kelompok pendukung industri hulu dan kelompok industri hilir. Dengan demikian industri rotan Indonesia mampu menghantarkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan global.
Adapun roadmap yang ditawarkan dalam rangka meningkatkan sektor industri rotan Indonesia di tinggat nasional maupun global sebagai berikut :

Daftar Pustaka
Anonim. 2013. Pengembangan Produk Mabel Rotan Indonesia. Warta Ekspor, Ditjen PEN/MJL/004/6/2013 Juni
Belcher, Brian. 2002. CIFOR Research: Forest Products and People, Rattan Issues dalam  Non-Wood Forest Product, 14, Rattan Current Research Issues and Prospects for Conservation and Sustainable Development. John Dransfield, Florentino O. Tesoro dan N. Manokaran (edt). FAO
Erwinsyah. 1999. Kebijakan Pemerintah dan Pengaruhnya Terhadap Pengusahaan Rotan di Indonesia. The Natural Resources Management/EPIQ Program's Protected Areas Management Office.
Januminro. 2000. Rotan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Lumbantoruan, Meliana. 2013. Industri Rotan Indonesia: Dilema Antara Pengembangan Industri Hulu dan Hilir. Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada diakses dari http://cwts.ugm.ac.id/2013/06/industri-rotan-indonesia-dilema-antara-pengembangan-industri-hulu-dan-hilir/ tanggal 3 Juni 2014.
Muniandy,dkk. 2012. Biodegradation, Morpholgical, and FTIR Study of Rattan Powder-Filled Natural Rubber Composites as a Function of Filler Loading and a Silane Coupling Agent. BioResources 7(1),957-971.
Ngo-Samnick E. Lionelle. 2012. Rattan: Production and Processing. Engineers Without Borders, Cameroon (ISF Cameroun) and The Technical Centre for Agricultural and Rural Co-operation (CTA). Wageningen, The Netherlands.
Rachman, Osly dan Jasni. 2013. Rotan: Sumberdaya, Sifat dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan dan Pengolahan Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor.
Sanusi, Djamal. 2012. Rotan Kekayaan Belantara Indonesia. Surabaya: Brilian Internasional
Silitonga, Toga. 2002. Dregaded Tropical Forest and its Potential Role for Rattan Development: An Indonesian Perspective dalam  Non-Wood Forest Product, 14, Rattan Current Research Issues and Prospects for Conservation and Sustainable Development. John Dransfield, Florentino O. Tesoro dan N. Manokaran (edt). FAO
Suprapto, Hadi dan Sukirno. 2011. Indonesia Produsen Rotan Terbesar Dunia. Viva News 9 November 2011 diakses dari http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/262603-indonesia-produsen-rotan-terbesar-dunia tanggal 3 Juni 2014.
WWF. 2011. Sustainable Rattan Harvesting Mini Guide. WWF. www.panda.org/rattan
Yuniarti, Karnita. 2006. Teknologi Budidaya dan Pengolahan Rotan dan Bambu. Makalah disajikan pada Ekspose/Diskusi Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Bali-Nusa Tenggara. Kupang, 12 Desember 2006.