Latar Belakang
Sejak dua dekade yang lalu, ada
semacam peningkatan pengakuan terhadap nilai-nilai produk yang dihasilkan dari hutan
(Hasil Hutan Non Kayu atau HHNK). Pemanfaatan HHNK diharapkan mampu
berkontribusi dalam mengatasi persoalan yang timbul dari pertumbuhan jumlah
penduduk yang terus meningkat dan isu konservasi. Menurut Belcher (2002), dalam
kaitannya dengan hal di atas, ada tiga hal sentral yang menjadi alasan.
Pertama, bila dibandingkan dengan kayu, HHNK lebih berkontribusi terhadap mata
pencaharian dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Kedua,
secara ekologi, pemanenan HHNK lebih ramah bila dibandingkan dengan pemanenan
kayu dan oleh karenanya memenuhi basis pengelolaan hutan lestari. Ketiga,
pemanfaatan HHNK secara komersial mampu meningkatkan nilai hutan baik di level
lokal maupun nasional. Salah satu hasil hutan non kayu yang bernilai cukup
tinggi adalah rotan.
Seluruh jenis rotan yang tumbuh di
permukaan bumi diperkirakan 850 jenis. Pusat pertumbuhan rotan paling banyak
ditemui di Asia Selatan. Di wilayah ini terdapat sekitar 614 jenis rotan dan
312 jenis tumbuh di Indoneisa. Dari total 13 marga tumbuhan rotan di dunia, 8
marga diantaranya tumbuh di Indonesia (Rachman & Jasni,2008).
Indonesia sejak abad XVIII telah
menjadi pelopor dalam penyedia produk rotan dunia. Dalam jajaran sektor HHNK,
rotan menjadi primadona bagi pemasok devisa negara karena menduduki 80%-90%
total nilai ekspor HHNK keseluruhan (Januminro,2000). Tahun 1996, sekitar 80%
dari perdagangan rotan internasioanal berasal dari Indonesia. Lebih dari 90%
produksinya dihasilkan dari hutan alam yang terdapat di Sumatera, Kalimantan
dan Sulawesi (Silitonga,2002).
Saat ini ketersediaan rotan sangat
banyak di hutan Indonesia terutama di wilayah Kalimantan, Sulawesi dan
Sumatera. Indonesia merupakan penghasil 85% rotan mentah dunia yaitu dengan
nilai sekitar 699.000 ton/tahun. Akan tetapi sayangnya kondisi ini tidak serta
merta menempatkan Indonesia sebagai leading
country dalam perdagangan rotan internasional. Saat ini Indonesia menempati
posisi ketiga (7,68%) dalam perdagangan rotan di pasar global setelah China
(20,72%) dan Italia (17,71%) (Lumbantoruan,2013). Kondisi ini tentunya menjadi
sebuah persoalan yang memerlukan pemecahan secara holistik serta kajian yang
mendalam dengan melihat faktor-faktor penghambatnya guna menghantarkan
Indonesia sebagai leading country
dalam perdagangan rotan dunia.
Sebaran Alami
Rotan di Indonesia
Penyebaran tumbuhan rotan mulai di
kepulauan Fiji di Timur sampai ke Afrika tropis di bagian Barat dan mulai dari
Autralia Utara sampai daerah Cina Selatan. Pusat pertumbuhan rotan paling
banyak ditemui di Asia Selatan. Di indonesia penyebaran tumbuhan rotan
terbanyak berada di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Irian Jaya.
Penyebaran dan potensi rotan di
Indonesia hasil inventarisasi tahun 2006, tidak tersebar merata di seluruh
nusantara. Penyebaran rotan di Indonesia meliputi 20 propinsi dengan total
areal hutan yang ditumbuhi rotan seluas 9,9 juta hektar. Potensi produksi
terbanyak terdapat di Sulawesi Tenggara 6,5 ton/ha, Kalimantan Barat 3,85
ton/ha, Sulawesi Selatan 1,95 ton/ha, Irian Jaya 1,8 ton/ha, dan Kalimantan Timur
1,21 ton/ha (Sanusi,2012).
Mogea (1990) dalam Rachman dan
Jasni (2008), menyatakan bahwa di Asia Selatan terdapat sekitar 614 jenis
rotan. Dari jumlah ini ternyata di Indonesia tumbuh sekitar 314 jenis yang
berasal dari 8 genera dan satu genus diantaranya adalah endemik Indonesia,
yaitu Cornera. Apabila dibandingkan
dengan beberapa negara di Asia Tenggara, Indoenseia merupakan negara paling
kaya akan sumberdaya rotan.
Dari 8 genera yang tumbuh di
Indonesia diantaranya meliputi jenis: Calamus
sebanyak 192 jenis, Ceratalobus 7
jenis , Cornera 1 jenis , Daemonorops 78 jenis, Kortehalsia 25 jenis, Myrialepsis 2 jenis, Plectocomia 5 jenis, dan Plectocomiopsis 2 jenis. Adapun penyebaran pertumbuhan jenis rotan
di Indonesia dapat digambarkan melalui tabel berikut :
Sumber
: Dransfield (1974) dan Sumarna (1986) dalam Rachman dan Jasni (2008)
Keterangan : ¹ Terdapat lebih dari
satu species yang sama dalam wilayah yang berbeda; ² Jumlah species yang ada
secara nasional; ³ Banyaknya species yang sama menyebar pada beberapa wilayah
(jenis epidemik)
Seperti tampak pada tabel di atas,
apabila species yang tumbuh pada masing-masing wilayah dijumlahkan diperoleh
sebanyak 340 species (jumlah¹). Namun, jumlah spesies yang tercatat secara
nasional adalah 312 spesies. Dengan demikian, terdapat selisih sebanyak 28
spesies, yaitu spesies-spesies yang tumbuh secara epidemik di beberapa wilayah.
Struktur dan
Sifat Rotan
Secara anatomis, rotan memiliki
unsur-unsur longitudinal (sel-sel yang arah panjangnya searah sumbu panjang
batang), akan tetapi tidak memiliki unsur-unsur transversal seperti halnya
unsur-unsur tranversal pada kayu (sel parenkim jari-jari dan sel epikel). Bila
dibandingkan dengan struktur kayu daun lebar, struktur rotan lebih sederhana
karena hanya memiliki beberapa macam sel dan susunan sel lebih seragam. Tidak
adanya unsur-unsur tranversal pada batang rotan menjadikan rotan bersifat elastis
dan mudah dibelah. Kedua sifat ini menguntungkan dalam pengolahan rotan menjadi
berbagai macam komponen furniture
(Sanusi,2012).
Terdapat dua bagian struktur yang
berbeda walaupun batasnya tidak jelas pada penampang lintang batang, yaitu
lapisan luar (jaringan perifer atau korteks) dan bagian dalam (jaringan
sentral). Bintik-bintik yang nampak tersebar berwarna lebih gelao diantara
jaringan yang berwarna pucat adalah berkas pembuluh, sedangkan jaringan lunak
yang berwarna pucat adalah berkas pembuluh (Sanusi,2012). Menurut Tomlison
(1961) dalam Rachman dan Jasni (2013), komponen mikroskopis penyusun batang
rotan dapat dikelompokan menjadi tiga bagian utama, yaitu: kulit, parenkim
dasar, dan ikatan pembuluh.
Jaringan kulit rotan terdiri dari
dua lapisan sel, yaitu epidermis dan endodermis. Menurut Sanusi (2012), sel
epidermis memiliki sifat yang sangat keras karena adanya endapan silika.
Kekerasan dari epidermis tidak dipengaruhi oleh umur. Sedangkan endodermis
memiliki sifat yang lebih lunak. Sel-sel yang menusun endodermis ini diduga
merupakan tempat persenyawaan silika paling banyak dibentuk untuk kemudian
diendapkan pada lapisan epidermis. Pada penampang melintang batang rotan,
sel-sel epidermis tersusun tegak sedangkan sel-sel endodermis tersusun berbaring.
Di bawah endodermis terdapat
korteks yang terdiri dari sel-sel parenkim, berkas serat dan ikatan pembuluh.
Menurut Siripatanadilok (1974) dalam Rachman dan Jasni (2013), suatu hal yang
perlu diperhatikan ialah adanya seludang serat (fibre sheat) yang disebut sebagai yellow caps, yaitu serat schelerenchyim
yang terdapat di sekitar pembuluh pertama di bawah korteks. Yellow caps hanya ditemukan pada genera Korthalsia, Myrialepsis, Plectocomia dan
Plectocomiopsis.
Jaringan parenkim dasar bagaikan
pengisi batang dimana ikatan-ikatan pembuluh tertanam menyebar di dalamnya.
Jaringan ini berbeda dengan parenkim aksial yang terdapat di dalam ikatan
pembuluh. Parenkim dasar terdiri dari sel-sel parenkim isodiometrik pendiding
tipis dengan noktah sederhana (Rachman dan Jasni,2013; Sanusi,2012).
Jaringan ikat pembuluh terletak
menyebar diantara jaringan parenkim dasar. Sanusi (2012) mengatakan, tiap
berkas pembuluh tersusun atas dua jaringan utama, yaitu jaringan pelaksana dan
jaringan penyangga. Jaringan pelaksana terdiri atas satu atau dua untaian phloem, satu atau dua metaxylem, beberapa protoxylem dan jaringan parenkim aksial. Adapun jaringan penyangga adalah satu berkas serat. Rachman
dan Jasni (2013) lebih lanjut mengatakan, fungsi jaringan pelaksana adalah
mengatur kegiatan fisologis tanaman dalam pertumbuhannya. Sedangkan jaringan
penyangga berfungsi dominan memberi kekuatan mekanik pada rotan.
Komposisi kimia pada rotan secara
garis besar dapat dikelompokan menjadi tiga komponen pokok, yaitu: selulosa,
lignin dan zat ekstraktif (Rachman dan Jasni,2013). Selusola berasal dari
fotosintesis, berbentuk rantai panjang. Jumlah selulosa dalam rotan kurang
lebih 38-60%. Lignin merupakan bagian terbesar kedua setelah selulosa.
Jumlahnya berkisar 18-35%. Lignin berfungsi sebagai bahan pengikat antara satu
dan lain sel dalam rotan. Oleh karena itu, lignin memberikan kekuatan pada rota. Adapun untuk zat
ekstraktif merupakan bahan organik dan anorganik dengan berat molekul rendah.
Zat ekstraktif ini pada mulanya merupakan cairan yang terdapat dalam rongga sel
pada waktu sel-sel masih hidup, setelah sel-sel tua dan mati cairan tadi
menempel pada dinding sel berupa getah, lilin, zat warna, gelatin, gula-gula,
mineral dan silika. Jumlah zat ekstraktif pada rotan kurang lebih 13%.
Rachman dan Jasni (2013) lebih
lanjut mengatakan, secara mendasar nilai sifat fisis mekanis rotan ditentukan
oleh susunan dan orientasi sel penyusun serta komposisi kimia rotan. Adapun
sifat mekanis rotan meliputi: kadar air,
berat jenis dan kekuatan lentur statik. Untuk rotan kebanyakan yang
dijumpai di Indonesia, kadar airnya berkisar 14-20% dari berat rotan kering,
tergantung pada kondisi lingkungan di mana rotan tersebut berada. Untuk berat
jenisnya berkisar 0,40-0,61, tergantung ikatan pembuluhnya (IKP). Semakin
tinggi IKP, maka semakin tinggi pula berat jenisnya.
Genera
Camalus merupakan jenis yang paling
banyak tumbuh di Indonesia. Muniandy dkk (2012) lebih spesifik mengatakan
komposisi kimia, fisika dan mekanik dari jenis Calamus melalui tabel beikut :
|
Sifat
|
|
Nilai Perkiraan
|
|
Sifat
Fisika
|
Gaya Berat Khusus
|
0.55
|
|
|
Kepadataan
|
0.54 g/cm³
|
|
Sifat
Mekanik
|
Daya Rentang
|
690 kg/cm²
|
|
|
Daya Lengkung
|
636 kg/cm²
|
|
|
Daya Tekan
|
216 kg/cm²
|
|
|
Modulus Elastis
|
31302 kg/cm²
|
|
Sifat
Kimia
|
Holoselulosa
|
78.43%
|
|
|
lignin
|
21.97%
|
|
|
Abu
|
1.37%
|
|
|
Cairan Panas yang dapat
larut
|
6.01%
|
|
|
Cairan Dingin yang dapat
larut
|
3.63%
|
|
|
1% alkali
|
22.47%
|
|
|
Alkohol-Benzena
|
2.9%
|
Pemanfaatan dan Nilai Ekonomi
Masyarakat Indonesia sudah sejak
lama mengenal dan menggunakan rotan dalam berbagai keperluan sehari-hari,
bahkan di beberapa tempat rotan telah menjadi pendukung perkembangan budaya
masyarakat setempat. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti kapan
masyarakat Indonesia memanfaatkan rotan.
Ada banyak perbedaan dalam hal
penggunaan rotan di masa lampau dan masa sekarang. Perbedaan penggunaan rotan
tersebut yang jelas terletak pada manfaat dan peranan dalam mendukung kehidupan
dan kesejahteraan manusia. Secara umum Januminro (2000) membagi manfaat rotan
menjadi dua kelompok, yaitu manfaat rotan secara langsung dan manfaat rotan
tidak langsung. Manfaat langsung, meliputi batang tua dimanfaatkan untuk bahan
baku kerajinan dan perabot rumah tangga; batang muda dimanfaatkan untuk
sayuran; buahnya dimanfaatkan untuk bibit tanaman, obat tradisonal, bahan
pewarna, rujak dan sayur; akar dimanfaatkan untuk obat tradisional; dan daun
dimanfaatkan untuk atap rumah.
Peran yang tidak langsung yang
dapat diberikan dengan keberadaan tumbuhan rotan adalah dalam peranan dan
kontribusinya meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, peranannya
dalam membentuk budaya masyarakat, ekonomi dan sosial.
Manfaat rotan secara tidak langsung
yang menyentuh kehidupan budaya masyarakat tercermin pada perkembangan daya
kreasi dalam bentuk berbagai produk rotan. Misalnya kreasi dalam pembuatan
tikar lampit, topi, tas, meja kursi, dan sebagainya. Selain itu, di masyarakat
kita juga mengenal beberapa peribahasa yang menggunakan kata rotan. Hal
tersebut menunjukan bahwa rotan begitu berarti. Dengan demikian, bagian rotan,
ciri dan bentuk kenampakannya menjadi kiasan untuk menunjukkan kesamaannya
dengan tata kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, peranannya sebagai
sumber mata pencaharian masyarakat, penyerapan dan perluasan tenaga kerja
merupakan manfaat rotan yang penting secara tidak langsung. Kontribusi yang
diberikan oleh rotan memiliki mata rantai yang cukup panjang mulai dari
kegiatan pemungutan sampai dengan menjadi barang jadi dan dipasarkan ke
konsumen.
Kegiatan ekspor rotan merupakan
salah satu sumber devisa bagi negara. Januminro (2000) memaparkan jumlah devisa
dari produk ekspor rotan dan barang jadi rotan yang tercatat dari tahun
1993-1997 berkisar antara US$ 204,4 juta – US$ 374,5 juta setiap tahunnya.
Total devisa yang disumbangkan dari ekspor rotan dan barang jadi rotan tersebut
merupakan kontribusi sebesar antara 0.47%-1.27% dari total nilai ekspor
nonmigas. Dalam hal peringkat sumbangan devisa nonmigas, produk rotan dan
barang jadi rotan berada pada urutan 12 dari total 27 jenis komoditas utama
nonmigas. Kontribusi dari rotan tersebut ternyata nilainya lebih besar dari
pada devisa yang diterima dari ekspor produk kayu gergajian yang hanya
menumbang antara 0.26%-0.55% setiap tahunnya.
Dalam perkembangannya, ekspor
produk rotan dan barang jadi rotan mengalami penurunan. Dimulai pada 2006, kinerja sektor ini mencapai
US$ 344 juta, kemudian pada 2007 turun menjadi US$ 319 juta. Selanjutnya, pada
2008 turun lagi menjadi US$ 239 juta dan pada tahun 2009 serta 2010
masing-masing turun menjadi US$ 168 juta dan US$ 138 juta. Sementara itu, pada
Juni 2011, ekspor turun menjaadi US$ 57 juta (Suprapto dan Sukirno,2011).
Budidaya,
Pemanenan dan Pengolahan
Meluasnya pemanfaatan dan
perdagangan rotan juga menimbulkan budaya untuk menghargai tanaman rotan itu
sendiri. Penghargaan dan perhatian yang begitu besar terhadap rotan ditunjukan
dengan dilakukannya pembudidayaan rotan oleh masyarakat di berbagai daerah di
Indonesia sejak abad XVIII (Januminro,2000).
Tidak semua jenis rotan disarankan
untuk dibudidayakan. Kegiatan membudidayakan rotan harus mempertimbangkan
faktor dalam pemilihan jenis-jenis rotan, antara lain yang memiliki nilai
ekonomi tinggi serta mengasilkan batang berkualitas tinggi. Menurut Yuniarti
(2006), secara umum budidaya tanaman dapat dilakukan secara generatif (dengan
biji) dan secara vegetatif (pucuk daun, akar, batang dengan stek, cangkok,
okulasi dan kultur jaringan). Sampai saat ini, budidaya rotan yang telah
dilakukan adalah dengan menggunanakan biji (teknik generatif).
Januminro (2000) lebih lanjut
mengatakan, cara pembudiayaan dengan hasil yang baik dilakukan dengan cara
membuat rintis (jalan di dalam hutan) dengan cara menebangi kayu-kayu kecil
selebar 2 m dengan arah Timur-Barat. Rintis yang telah dibuat ditanami bibit
rotan kecil yang tumbuh di sekitar pohon rotann induk. Bibit rotan yang tumbuh
di sekitar pohon induk tersebut dicabut dan ditanam langsung di lokasi rintisan
yang telah diberi lubang-lubang tanam. Jarak tanam antara 6-8 m. Selanjutnya,
bibit rotan yang telah ditanami tersebut dipelihara secara rutin dan selama
6-12 bulan sekali dilakukan penyiangan terhadap tumbuhan pengganggu. Rotan yang
dipelihara dengan baiklambat laun akan bertunas dan berumpun yang dapat
mencapai 50-100 batang dan merambat hingga mencapai panjang 50cm bahkan lebih.
Dalam kegiatan pemanenan, waktu
yang disarankan untuk memulai kegiatan pemanenan ketika: duri rotan sudah mulai
menghitam, daun-daun sudah mulai jatuh, daun-daun pada akar rotan sudah kering
dan berjatuhan, batang rotan sudah mulai berubah warna dari kuning terang-hijau
gelap, rotan sudah berbunga dan berbuah, serta panjangnya lebih dari 5m
(WWF,2011).
Rachaman dan Jasni (2013)
mengatakan, pada dasarnya pemanenan rotan dilakukan semakin tua akan semakin
baik. Namun, pemanenan sebaiknya dilakukan setelah rotan masak tebang. Panen
pertama kali umumnya dilakukan pada umur 6-8 tahun untuk rotan berdiameter kecil,
sedangkan untuk rotan berdiameter besar antara 12-15 tahun. Bagi rotan alam
yang tidak diketahui umurnya, ciri-ciri masak tebangnya adalah apabila
kelopak/daun/selundang pada batang bagian bawah sudah rontok, sebagian daunnya
sudah mengering dan berwarna kekuning-kuningan.
Adapun proses pemanenan dapat
dilakukan dengan langkah-langkah berikut (Ngo-Samnick,2012): 1).menentukan
terlebihdahulu spesies rotan yang akan dipanen (hal ini menghindari pemotongan
yang sia-sia pada jenis yang tidak tepat/belum masak tebang), 2). Potong batang
rotan 10cm di atas tanah, tarik dengan hati-hati untuk menghindari tunas muda,
jangan sampai merusak pohon-pohon dan semak-semak disekelilingnya, 3). Lepaskan
potongan batang dari ujung semak dengan menariknya ke bawah, sebaiknya dengan
bantuan satu atau dua orang yang lain, dan jika perlu, memanjat ke pohon untuk
melepaskan bagian-bagian batang yang terlingkupi ranting-ranting. 4). Setelah terlepas bagian utama dari
batang, potong menjadi tongkat dengan berbagai panjang, tergantung pada spesies,
ukuran rotan, atau menggunakan spesifikasi pembeli. Dalam kasus di mana seluruh
panjang batang terlepas, potong tiga meter terakhir, karena bagian ini tidak layak untuk pengolahan, tetapi mungkin
berguna untuk mengikat bundel rotan. 5). Batang biasanya dipotong menjadi panjang 4 m untuk
rotan diameter besar, dan 10 m untuk rotan diameter
kecil. 6). Sortir tongkat untuk memisahkan
tongkat yang kualitasnya di bawah standar. 7). Setelah panen, rotan harus diikat dalam
bundel dan diangkut untuk penggunaan lokal atau ke
pusat-pusat pengolahan lebih lanjut.
Secara garis besar, terdapat dua
proses pengolahan bahan baku rotan asalan menjadi rotan setengah jadi, yakni
pemasakan dengan minyak tanah untuk rotan berukuran sedang dan besar serta
pengasapan dengan belerang untuk rotan yang berukuran kecil. Pemasakan dengan
minyak biasanya dilakukan oleh pengepul besar dengan menggunakan tiga drum yang
telah dibelah dua dan disambung menjadi satu. Selanjutnya, puluhan batang rotan
dimasukkan ke dalam wajan drum itu yang sebelumnya telah diisi minyak tanah.
Proses pemasakan cukup bervariasi tergantung besarnya api dan banyaknya rotan
yang dimasak namun biasanya pemasakan diperkirakan akan memakan waktu sekitar
6-8 jam. Usai dimasak, rotan lalu dijemur untuk menghilangkan kandungan minyak
tanah. Bila cuaca panas dan tidak hujan, penjemuran biasanya dilakukan sekitar
tiga hari. Sedangkan bila cuaca lembab atau hujan, penjemuran bisa memakan
waktu sekitar seminggu. Preses pengolahan dilanjutkan dengan proses menguliti
dan membentuk rotan dalam beberapa ukuran. Selanjutnya, rotan setengah jadi
siap dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri (anonim,2013).
Ngo-Samnick (2012) mengatakan lebih
lanjut, bahwa secara umum pengolahan atau pemprosesan rotan dibedakan menjadi
dua metode, yaitu metode tradisional dan metode modern. Metode tradisional
lebih sedikit dalam hal biayanya. Sedangkan metode modern biayanya lebih mahal
bila dibandingkan dengan metode tradisional, metode ini ditujukan untuk
menghasilkan produk dengan kualitas yang tinggi.
Kendala dalam
Produksi dan Pemanfaatan Rotan
Rotan telah dipandang sebagai
komoditi perdagangan hasil hutan non kayu yang cukup penting di Indonesia.
Namun dalam pengolahan, ternyata masih belum memperlihatkan daya saing yang
tinggi. Sanusi (2012) mengatakan, tenaga ahli dan terampil di bidang
pengelolaan rotan masih sangat kurang, tidak memiliki desainer yang kreatif
untuk menciptakan produk-produk yang sesuai dengan selera pasar internasional.
Hal ini diduga karena pemerintah dan instansi lain terkait di daerah masih
belum menunjukan perhatian yang serius sebagaimana perhatian yang selama ini
telah diberikan kepada produk hasil hutan lainnya terutama kayu.
Kebijakan pengelolaan sumber daya
hutan termasuk rotan sampai saat ini masih mengacu kepada ketentuan pengelolaan
kehutaan yang tertuang dalam Undang-Undang Pokok Kehutanan 1967. Kebijakan
pemanfaatan itu belum mengantarkan kepada perhatian yang khusus sebagaimana
perhatian kepada kayu. Rotan masih ditempatkan sebagai produk hutan sampingan
(Erwinsyah, 1999).
Menempatkan rotan yang masih
menjadi produk hutan sampingan terlihat dari maraknya alih fungsi lahan hutan.
Rotan yang pada dasarnya hasil hutan secara alami akan semakin terus berkurang
dan tergerus seiring dengan pembukaan hutan melalui alih fungsi lahan. Habibat
rotan yang terus tergerus pastinya akan mempengaruhi ketersediaan bahan baku
rotan untuk industri rotan baik industri primer maupun skunder. Dengan demikian
perlu digarisbawahi bahwa posisi rotan ternyata dianggap tidak cukup signifikan
jika dibandingkan dengan komoditas lainnya.
Lumbantoruan (2013) mengatakan
salah satu faktor penghambat dalam industri rotan adalah tidak adanya
sinergitas antara industri hulu (industri bahan baku) dan hilir (industri
barang jadi). Hal ini terutama diakibatkan kebijakan dan industri rotan selalu
dipengaruhi oleh tarik menarik kepentingan antara pendukung kelompok industru
hulu rotan dengan industri hilir rotan. Tarik menarik kepentingan ini membuat
pemerintah mengalami dilema antara akan mempertahankan dan memperjuangkan
industri hulu atau fokus pada pengembangan industri hilir. Dilema tarik menarik
ini menyebabkan pemerintah hanya mengeluarkan kebijakan yang hanya sekedar
membuka dan menutup keran ekspor rotan mentah.
Kepentingan yang selalu bersebrangan antara kelompok industri hulu
dengan industri hilir rotan membuat setiap kebijakan yang diambil tidak pernah
disepakati oleh kedua kelompok tersebut, sehingga pada akhirnya menyebabkan
industri produk rotan Indonesia belum mampu meraih posisi yang signifikan di
pasar global.
Saran dan Roadmap Pengembangan industri Rotan
Dari paparan kendala-kendala yang
dihadapi dalam industri rotan di atas, hendaknya pemerintah lebih memberikan
perhatian terhadap industri rotan. Perhatian tersebut dapat diarahkan kepada
peningkatan kualitas kerja desiner, sehingga seorang desainer atau pengrajin rotan
mampu memadukan kemampuan penalaran aspek rasional (pendekatan aspek ergonomi,
aspek teknis, dan aspek ekonomi) dengan pendekatan emosional (aspek estetika).
Selain itu, peningkatan kualitas
kerja pengrajin harus didukung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang
menempatkan produk rotas bukan lagi sebagai komoditi sampinga. Hal ini dapat
dilakukan dengan meminimalisir alih fungsi lahan hutan yang notabanenya habitat
alami rotan. Di satu sisi, kegiatan pembudidayaan rotan juga harus
ditingkatkan. Hal ini dalam upaya untuk menjadi alternatif ketikan rotan alam
semakin berkurang jumlahnya, sehingga ketersediaan bahan baku akan tetap
tercukupi.
Satu hal yang tidak kalah
pentingnya adalah menciptakan kebijakan-kebijakan yang mampu mengintegrasikan
antara industri hulu dengan industri hilir rotan. Sehingga mampu mengakomodir
kepentingan antara kelompok pendukung industri hulu dan kelompok industri hilir.
Dengan demikian industri rotan Indonesia mampu menghantarkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan
global.
Adapun roadmap yang ditawarkan dalam rangka meningkatkan sektor industri
rotan Indonesia di tinggat nasional maupun global sebagai berikut :
Daftar Pustaka
Anonim.
2013. Pengembangan Produk Mabel Rotan
Indonesia. Warta Ekspor, Ditjen PEN/MJL/004/6/2013 Juni
Belcher,
Brian. 2002. CIFOR Research: Forest
Products and People, Rattan Issues dalam
Non-Wood Forest Product, 14,
Rattan Current Research Issues and Prospects for Conservation and Sustainable
Development. John Dransfield, Florentino O. Tesoro dan N. Manokaran (edt).
FAO
Erwinsyah.
1999. Kebijakan Pemerintah dan
Pengaruhnya Terhadap Pengusahaan Rotan di Indonesia. The Natural Resources
Management/EPIQ Program's Protected Areas Management Office.
Januminro.
2000. Rotan Indonesia. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius
Lumbantoruan,
Meliana. 2013. Industri Rotan Indonesia:
Dilema Antara Pengembangan Industri Hulu dan Hilir. Pusat Studi Perdagangan
Dunia Universitas Gadjah Mada diakses dari http://cwts.ugm.ac.id/2013/06/industri-rotan-indonesia-dilema-antara-pengembangan-industri-hulu-dan-hilir/ tanggal 3 Juni 2014.
Muniandy,dkk.
2012. Biodegradation, Morpholgical, and
FTIR Study of Rattan Powder-Filled Natural Rubber Composites as a Function of
Filler Loading and a Silane Coupling Agent. BioResources 7(1),957-971.
Ngo-Samnick
E. Lionelle. 2012. Rattan: Production and
Processing. Engineers Without Borders, Cameroon (ISF Cameroun) and The
Technical Centre for Agricultural and Rural Co-operation (CTA). Wageningen, The
Netherlands.
Rachman,
Osly dan Jasni. 2013. Rotan: Sumberdaya,
Sifat dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan dan
Pengolahan Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor.
Sanusi,
Djamal. 2012. Rotan Kekayaan Belantara
Indonesia. Surabaya: Brilian Internasional
Silitonga,
Toga. 2002. Dregaded Tropical Forest and
its Potential Role for Rattan Development: An Indonesian Perspective
dalam Non-Wood Forest Product, 14, Rattan Current Research Issues and
Prospects for Conservation and Sustainable Development. John Dransfield,
Florentino O. Tesoro dan N. Manokaran (edt). FAO
Suprapto,
Hadi dan Sukirno. 2011. Indonesia
Produsen Rotan Terbesar Dunia. Viva News 9 November 2011 diakses dari http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/262603-indonesia-produsen-rotan-terbesar-dunia
tanggal 3 Juni 2014.
WWF.
2011. Sustainable Rattan Harvesting Mini
Guide. WWF. www.panda.org/rattan
Yuniarti,
Karnita. 2006. Teknologi Budidaya dan
Pengolahan Rotan dan Bambu. Makalah disajikan pada Ekspose/Diskusi
Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Bali-Nusa Tenggara. Kupang, 12
Desember 2006.